Harga Emas Naik Lagi, Apa Waktunya Tepat untuk Beli atau Justru Jual?
Reporter : Sigit P
Bisnis
Sabtu, 3 Januari 2026
Waktu baca 2 menit

Siginews.com-Investasi – Memasuki awal tahun 2026, kilau emas dan perak semakin benderang. Logam mulia ini berada pada jalur yang tepat untuk melanjutkan kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (2/1/2026), harga emas telah naik 1,6% menjadi US$4.387,57 per ons.
Optimisme pasar kini tertuju pada target ambisius berikutnya. Sejumlah institusi keuangan besar memprediksi reli ini belum akan berakhir, bahkan berpotensi menembus level baru yang lebih tinggi.
Ramalan Goldman Sachs dan Pengaruh Politik AS
Bank investasi ternama, Goldman Sachs Group Inc., memperkirakan harga emas memiliki skenario dasar untuk reli hingga menyentuh angka US$4.900 per ons.
Keyakinan ini didorong oleh kombinasi kebijakan moneter dan dinamika politik di Amerika Serikat.
Dua faktor utama yang dianggap menjadi “bahan bakar” kenaikan ini adalah:
– Pelonggaran Kebijakan The Fed: Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan. Suku bunga yang lebih rendah secara historis membuat emas menjadi aset yang lebih menarik dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi.
– Efek Donald Trump: Langkah Presiden Donald Trump yang sedang membentuk ulang kepemimpinan di bank sentral AS diyakini akan mempengaruhi arah kebijakan dolar dan inflasi, yang pada gilirannya memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (hedging).
Selain faktor domestik AS, rekor harga emas juga didukung oleh aksi borong yang dilakukan oleh berbagai bank sentral dunia dan melemahnya indeks dolar AS.
Tingginya tensi geopolitik serta friksi perdagangan global kian mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven).
Tidak hanya emas, perak pun menunjukkan performa luar biasa dengan melonjak 3,1% menjadi US$73,88 di awal tahun ini, melampaui ekspektasi banyak pengamat pasar.
Waspada Koreksi Jangka Pendek
Meski prospek jangka panjang terlihat sangat positif, para analis mengingatkan adanya risiko rebalancing indeks yang dapat menekan harga dalam jangka pendek.
Ahli strategi komoditas senior di TD Securities, Daniel Ghali, mencatat bahwa dana indeks pasif kemungkinan akan menjual sebagian kontrak emas dan perak mereka pekan depan.
“Diperkirakan sekitar US$6 miliar kontrak berjangka emas bakal dijual untuk penyesuaian bobot baru,” ungkap Ghali, Jumat (2/1/2026).
Likuiditas yang masih rendah pasca-libur tahun baru di pasar utama seperti Jepang dan China dapat memperbesar pergerakan harga jika aksi jual massal ini terjadi.
Namun, bagi banyak pengamat, koreksi tersebut dinilai hanya sebagai penyesuaian teknis di tengah tren besar kenaikan logam mulia yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter AS di tahun 2026.
(Editor Aro)
#Donald trump
#Emas
#Harga emas
#Harga perak
#Logam mulia
#Perak
#The fed



Berita Terkait

KPK Kembali Periksa Eks Ketua DPRD Jatim Kusnadi di Kantor BPK Jatim
Hukrim.Rabu, 13 Agustus 2025

Jubir AS Matthew Miller: Dukung Serangan Israel Agar Dapat Resolusi
Headlines.Minggu, 13 Oktober 2024

Mikel Arteta Keluhkan Gol Tendangan Bebas Bruno Fernandes
Internasional.Senin, 10 Maret 2025

Ketua DPR Puan Umumkan: Presiden Kirim Daftar Calon Dubes Baru
Nasional.Kamis, 3 Juli 2025

