siginews

Kaisar Roma vs Paus:Siapa yang Menentukan Tradisi Perayaan Tahun Baru?

Reporter : Sigit P

Headlines

Kamis, 1 Januari 2026

Waktu baca 2 menit

Kaisar Roma vs Paus:Siapa yang Menentukan Tradisi Perayaan Tahun Baru?

Siginews.com-Dunia – Di balik gemerlap pesta kembang api yang kini identik dengan malam pergantian tahun, catatan sejarah dunia mengungkapkan sisi yang jauh lebih mendalam.

Selama ribuan tahun, awal tahun baru sebenarnya merupakan manifestasi dari peristiwa astronomi dan siklus pertanian yang sakral bagi peradaban manusia.

Jauh sebelum kalender modern menetapkan 1 Januari, perayaan tahun baru adalah simbol kelahiran kembali alam yang sangat bergantung pada pergerakan bintang dan musim panen.

 

Ritual Panen Jelai dan Banjir Sungai Nil

Festival tahun baru tertua yang tercatat berasal dari Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka merayakan tahun baru saat bulan baru pertama setelah ekuinoks musim semi (akhir Maret).

Perayaan ini disebut Akitu, yang secara harfiah berasal dari kata Sumeria untuk “jelai”, tanaman yang dipanen pada musim tersebut.

Hal serupa terjadi di Mesir Kuno. Tahun baru mereka tidak datang di musim dingin, melainkan pada pertengahan Juli, bertepatan dengan banjir tahunan Sungai Nil.

Peristiwa ini ditandai dengan munculnya bintang Sirius setelah absen selama 70 hari. Bagi bangsa Mesir, ini adalah momen “Wepet Renpet” atau pembukaan tahun yang melambangkan peremajaan jiwa dan tanah mereka.

 

Transisi dari Musim Semi ke Januari

Iklan Wirajatimkso - Potrait

Perubahan radikal terjadi pada tahun 46 SM ketika Kaisar Romawi, Julius Caesar, memperkenalkan Kalender Julian. Sebelum era Caesar, bangsa Romawi, Fenisia, dan Persia juga mengawali tahun pada ekuinoks musim semi di bulan Maret.

Caesar menggeser awal tahun ke 1 Januari untuk menghormati Janus, dewa permulaan dan transisi yang memiliki dua wajah. Sejak saat itu, makna tahun baru mulai bergeser dari sekadar ritual alam menjadi sebuah ketetapan politik dan administratif.

Meski sempat dihapus pada abad pertengahan karena dianggap sebagai tradisi kafir dan diganti sementara ke tanggal 25 Maret oleh gereja Paus Gregorius XIII akhirnya memulihkan 1 Januari melalui reformasi kalender pada tahun 1582.

 

Refleksi dan Hubungan Spiritual

Sejarah juga menunjukkan bahwa tahun baru adalah momen refleksi hubungan manusia dengan sang pencipta. Dalam tradisi Yahudi, Rosh Hashanah yang jatuh pada September atau Oktober menjadi waktu untuk merenungkan masa lalu melalui tiupan shofar (tanduk domba).

Demikian pula di Eropa abad pertengahan, pergantian tahun sempat dikaitkan dengan “Hari Raya Kabar Sukacita” pada 25 Maret, yang memperingati momen sembilan bulan sebelum kelahiran Yesus.

Kini, meskipun perayaan global lebih menonjolkan pesta dan kembang api, akar sejarahnya tetap mengingatkan bahwa tahun baru adalah tradisi transisi manusia untuk membersihkan diri dari kekacauan masa lalu dan menyambut harapan baru, persis seperti para petani Babilonia yang menyambut tunas jelai pertama mereka ribuan tahun silam.

 

(Editor Aro)

#Julius Caesar

#Kaisar Romawi

#Paus Gregorius XIII

#Penetapan tahun baru dunia

#Sejarah penetapan tahun baru

#Tahun baru

#Tahun baru dunia

image ads default
Pasang Iklan di Sini
Jangkau ribuan pembaca setia setiap hari. Jadikan iklan Anda pusat perhatian.